Friday, 15 March 2013

Menikmati Sensasi Bawah Laut

 


 
SELAHUKH.uni.me- sumber daya alam tak lantas membuat Singapura kehabisan ide untuk menarik kunjungan turis. Beragam obyek wisata dibangun di negeri mungil ini, termasuk akuarium berisi 45 juta liter air dengan lebih dari 100.000 biota laut.

”Inilah akuarium terbesar di dunia,” ujar Tan Sri Lim Kok Thay, pemilik Genting Group dan Resort World Sentosa. Akuarium yang mulai dibuka untuk publik pada 22 November tahun lalu ini dibangun di dalam Resort World Sentosa (RWS), kawasan wisata terintegrasi di Pulau Sentosa, Singapura.
Akuarium bernama South East Asia (SEA) Aquarium ini menawarkan pemandangan bawah laut yang dikemas dalam panel-panel kaca. SEA Aquarium adalah salah satu obyek wisata air yang menjadi bagian dari wahana Marine Life Park (MLP) di RWS.

Suasana terowongan kaca raksasa yang berisi aneka jenis hiu di SEA Aquarium, Singapura, pada 7 Desember 2012. SEA Aquarium merupakan akuarium terbesar di dunia berisi 45 juta liter air yang dihuni ratusan biota laut dari 800 spesies.

MLP juga menawarkan obyek lain, yakni Adventure Cove Waterpark atau taman bermain air dengan aneka tipe kolam renang dan seluncur air. ”Dengan begitu, pengunjung dapat memilih wisata air dengan cara basah atau kering,” kata Tan Hee Teck, Chief Executive Officer RWS dan Presiden Genting Singapore PLC Venue.
Sekitar 200 jurnalis dari China, Hongkong, Indonesia, Malaysia, Thailand, Rusia, dan Singapura, yang diundang manajemen RWS saat peresmian kawasan wisata tersebut, akhir tahun lalu, berkesempatan menyaksikan kemegahan SEA Aquarium.
Setiap kelompok wartawan dari masing-masing negara seperti layaknya satu grup turis didampingi dua pemandu yang bertugas menjelaskan berbagai macam biota laut di dalam akuarium tersebut. Terdapat 20 panel layar sentuh berisi informasi mengenai hewan laut dan habitatnya.
Dengan membayar 29 dollar Singapura (setara Rp 225.000), pengunjung dapat menikmati keindahan bawah laut dengan ditemani pemandu. Lalu, apa yang membuat akuarium ini berbeda?
Di bagian awal, memasuki SEA Aquarium tak ubahnya berkunjung ke Sea World di kawasan wisata Ancol, Jakarta. Namun, cara mengemas dan teknologi yang ditawarkan obyek wisata ini jauh lebih berkelas.
Daya tarik utama SEA Aquarium adalah panel kaca raksasa dengan panjang 36 meter dan tinggi 8,3 meter. Di dalam kaca setebal 70 sentimeter ini terdapat ikan pari manta yang meliuk memesona, keindahan ikan napoleon, lalu-lalang ikan kerapu raksasa, dan ratusan ikan kecil yang berkejaran.
”Rasanya begitu damai melihat pemandangan bawah laut seperti ini,” ujar Nath (33), wisatawan asal Thailand, yang sedang berlibur di Singapura bersama istri dan anaknya.
Panel kaca raksasa itu berbobot 250 ton atau setara tiga bus tingkat yang ditumpuk. Pada umumnya pengunjung selalu memanfaatkan momen di panel kaca untuk mengambil foto.
Selain panel raksasa, di akuarium ini juga terdapat terowongan kaca raksasa berisi sekitar 200 hiu dari 12 spesies berbeda, seperti hiu martil, hiu karang sirip hitam, dan hiu perawat.
Di bagian lainnya juga terdapat panel-panel kaca berukuran kecil berisi biota laut endemik, seperti kepiting Jepang yang hidup di perairan bersuhu dingin, belut moray, dan berbagai macam terumbu karang.
Hotel di akuarium
Sekitar 100.000 biota laut dari 800 spesies di akuarium ini berasal dari sepuluh zona perairan yang meliputi 49 habitat berbeda, mulai dari laut lepas di Asia, Teluk Arab, hingga danau air tawar di Afrika bagian timur.
”Kebanyakan memang dari negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina,” ujar Joanna, salah seorang pemandu SEA Aquarium.
Keragaman biota menjadi daya tarik pengunjung untuk mengetahui keindahan dunia bawah laut tanpa harus berkunjung ke daerah asal biota.
Jika belum puas menikmati keindahan bawah laut hanya dengan mengitari akuarium, pengunjung juga dapat menginap di kamar mewah yang langsung menghadap ke kubah kaca terbesar di akuarium tersebut. Inilah yang disebut hasil kerja kreatif oleh Tan Hee Teck.
Terdapat hotel dengan 11 kamar suite dengan pemandangan samudra terbuka yang dibanderol dengan harga 2.400 dollar Singapura atau setara Rp 19 juta per malam. Fasilitas yang mengungguli hotel berbintang lima ini memang ditujukan bagi para jutawan yang memiliki kesenangan akan dunia bawah laut.
Selain kamar hotel, juga terdapat tempat makan bernama The Ocean Restaurant yang dikelilingi panel kaca akuarium mulai dari dinding hingga atap. Kawasan ini masih berada di dalam SEA Aquarium.
Selain menggaet grup wisatawan dan keluarga, pihak SEA Aquarium juga menawarkan paket edukasi untuk menarik minat para pelajar. Mereka menjalin kerja sama dengan sekolah yang ingin berkunjung ke akuarium lewat berbagai program belajar agar siswa dapat memahami dunia bawah air dan upaya konservasinya.
Biswajit Guha, Direktur Edukasi, Konservasi, dan Riset MLP, menjelaskan, sebagian biota laut yang ada di SEA Aquarium didatangkan langsung dari samudra lepas, sebagian lagi didapat dari penyuplai.
Untuk memutuskan jenis spesies tertentu digabung dalam satu panel kaca atau tidak, MLP memiliki fasilitas riset Marine Aquaculture and Research Center (MARC). Selain untuk riset, fasilitas ini juga digunakan untuk budidaya ikan.
Seluruh biota dikarantina terlebih dahulu di sebuah kolam terpisah di MARC sebelum ditempatkan dalam akuarium. Hal ini bertujuan agar spesies mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.
Biswajit menambahkan, kunci penanganan biota yang ada di SEA Aquarium adalah pemberian makan secara teratur serta penggantian air secara berkala agar hewan tidak stres. SEA Aquarium memiliki tim yang memantau kondisi setiap biota secara intensif.
Investasi
Selain SEA Aquarium dan Adventure Cove Waterpark, RWS juga memiliki Universal Studios Singapore, enam hotel berbintang berkapasitas 1.500 kamar, 60 restoran, kasino, dan ruang pertemuan yang mampu menampung 12.000 tamu. Resor seluas 49 hektar di Pulau Sentosa ini bernilai investasi 7 miliar dollar Singapura.
Dengan berbagai daya tarik tersebut, Tan Sri Lim menargetkan dapat mendatangkan 17 juta wisatawan ke RWS pada 2013. RWS akan ”memaksa” wisatawan memperpanjang masa kunjungan dengan memanfaatkan posisi Singapura sebagai negara transit.
”Kami yakin target itu dapat terwujud. Apalagi dengan semakin banyaknya penerbangan yang singgah ke Singapura,” ujar Tan Sri Lim Kok Thay.
Untuk mencapai target tersebut, Robin Goh, Asisten Direktur Komunikasi RWS, mengaku pihaknya bekerja sama dengan agen pariwisata lokal di Indonesia, Malaysia, dan China yang menjadi penyumbang terbesar kehadiran wisatawan di negara seluas 710 kilometer persegi ini. Mengundang media dari sejumlah negara, diakui Goh, juga menjadi ajang promosi yang efektif.
Saat pembukaan perdana RWS pada 7 Desember 2012, berbagai atraksi disuguhkan, seperti pesta kembang api, penyanyi sopran ternama Sarah Brightman, dan penampilan orkestra. Pesta pembukaan RWS juga dihadiri Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.
RWS merupakan mimpi besar Tan Sri Lim Kok Thay untuk mewujudkan kawasan wisata terintegrasi berkelas internasional di Singapura yang mampu menjadi unggulan di Asia. Tan Sri Lim, pengusaha asal Malaysia ini, juga pemilik Genting Highland Resorts di ”Negeri Jiran”.
Pengelolaan RWS menjadi tantangan bagi Indonesia. Kepuasan pengunjung memandang ribuan biota laut di SEA Aquarium tentunya tak sebanding jika menatap langsung ikan pari manta dan penyu hijau di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, ataupun terumbu karang di Raja Ampat, Papua.
Jika Tan Sri Lim berani memasang target 17 juta wisatawan pada 2013, yang sebagian besar turis asing, untuk mengunjungi kawasan pariwisata artifisial, bagaimana dengan Indonesia yang memiliki beragam obyek wisata alam. Tentunya hal ini bergantung pada keseriusan pemerintah. (Harry Susilo)
Sumber :Kompas.com
Editor :
S.H

Pasar-pasar Tradisional Unik di Indonesia


BARRY KUSUMAPasar Bolu, terletak di pusat wisata Toraja, Kota Rantepao. Pasar Bolu sudah terkenal sebagai obyek wisata yang menarik dan unik untuk dikunjungi. Pasar ternak, demikian pasar ini juga dikenal, merupakan pusat penjualan kerbau dan buka sekali dalam 6 hari (sesuai jadwal hari pasar).
Foto:
SELAHUKH.uni.me - Selain keindahan alam yang sangat banyak, Indonesia juga punya banyak keragaman budaya. Kekayaan budaya yang berbagai macam ini karena kita mempunyai banyak suku dan sejarah yang berbeda beda. Walau begitu salah satu keunikan budaya di Indonesia adalah pasar tradisional. Berikut adalah sebagian dari pasar-pasar tradisional di Indonesia yang unik.

Pasar Apung Muara Kuin Borneo

Pasar terapung merupakan tempat dimana Anda akan menyaksikan atau beraktivitas langsung di pasar sungai menggunakan perahu. Pasar terapung ini berlokasi di Banjarmasin tepatnya di persimpangan Sungai Kuin dan Sungai Barito. Pasar terapung di Banjarmasin merupakan refleksi budaya orang Banjar yang telah berlangsung sejak dahulu.

Di Kalimantan Selatan ada ratusan sungai menjadi jalur transportasi penting hingga sekarang. Tempat wisata pun bertumpu pada sungai, seperti pasar terapung Muara Kuin di Kota Banjarmasin ini. Saat matahari terbit kunjungilah pasar ini yang memantulkan cahaya pagi hari di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran Sungai Barito dan anak-anak sungainya.

Pasar Terapung Muara Kuin adalah pasar terapung tradisional yang berada di Sungai Barito di muara Sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah salat subuh sampai selepas pukul 9 pagi.
Keistimewaan di pasar ini adalah masih seringnya terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu yang dalam bahasa Banjar disebut 'bapanduk'. Para pedagang wanita (dukuh) yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan.

Banjarmasin sebagai ibu kota provinsi adalah pusat perdagangan dan pariwisata. Kota Banjarmasin mendapat julukan 'Kota Air' karena letak daratannya beberapa senti meter di bawah permukaan air laut. Kota Banjarmasin, memiliki luas sekitar 72 kilometer persegi atau sekitar 0,22 persen luas wilayah Kalimantan Selatan.

Kota ini dibelah oleh Sungai Martapura memberikan ciri khas tersendiri terhadap kehidupan masyarakatnya terutama pemanfaatan sungai sebagai sarana transportasi air, perdagangan dan pariwisata. Selain pasar terapung di Muara Kuin Banjarmasin, pasar terapung lainnya yang dapat Anda temui adalah di Lok Baintan yang berada di atas Sungai Martapura.

Pada tahun 1526 Sultan Suriansyah mendirikan kerajaan di tepi Sungai Kuin dan Barito yang kemudian menjadi cikal bakal kota Banjarmasin. Di tepian sungai inilah awalnya berlangsung pusat perdagangan tradisional berkembang. Pedagangnya menggunakan perahu kecil yang terbuat dari kayu. Para pedagang ini kebanyakan adalah perempuan yang mengenakan pakaian tanggui dan caping lebar khas Banjar yang terbuat dari daun rumbia.

Pasar Makale Toraja

Jika di Pasar Bolu komoditi utamanya adalah kerbau, maka di Pasar Makale komoditi utamanya adalah babi. Pasar ini pun kerap disebut sebagai Pasar Babi. Pasar ini bertempat di blok sekitar 50 x 20 meter, yang dibagi dalam tiga bagian: bagian untuk anak babi, babi dewasa, dan daging babi.

Jika Anda mengenal istilah kucing dalam karung, maka di Toraja Anda akan melihat babi dalam karung. Babi yang dimasukkan di dalam karung beras adalah anak-anak babi yang biasanya dibeli untuk dipelihara. Saat ada pembeli yang berminat, maka karung tersebut akan dibuka sedikit untuk diperlihatkan kepada calon pembeli. Sementara untuk babi dewasa, biasanya diikat pada bilah bambu dan diletakkan di tanah atau balai bambu.

Adapun kisaran harga babi, yaitu Rp 500.000 - Rp 750.000 untuk seekor anak babi. Sedangkan babi dewasa dapat mencapai kisaran Rp 3-9 juta. Akan tetapi, kabarnya pernah pula ada babi yang dihargai puluhan bahkan ratusan juta rupiah sebab bobot tubuhnya menyaingi bobot tubuh seekor kerbau. Berbeda dengan kerbau, babi hitam justru berharga lebih mahal dibandingkan dengan babi albino atau belang. Pasar babi ini pun hanya ada sekali dalam enam hari. Jika hari biasa, tidak ada babi yang diperjualbelikan.

Kerbau dan babi adalah simbol status bagi masyarakat Toraja dan merupakan hewan penting bagi kebudayaan masyarakat yang masih menganut ajaran animisme ini. Kerbau adalah syarat yang harus dipenuhi dalam sebuah upacara adat, terutama pemakaman; dipercaya bahwa kerbau yang disembelih akan menjadi kendaraan bagi roh jenazah yang hendak dikuburkan agar cepat sampai ke nirwana.

Semakin banyak kerbau yang disembelih pada suatu upacara adat, semakin tinggi pula kedudukan keluarga penyelenggara upacara. Bagi golongan bangsawan, dibutuhkan kerbau sebanyak 24-100 kerbau. Sedangkan bagi golongan menengah, 8 ekor kerbau dan 50 babi adalah syarat wajib yang harus dipenuhi dalam melaksanakan upacara pemakaman adat (Rambu Solo).

Oleh karena itu, keberadaan pasar ini tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan dan peradaban masyarakat Toraja. Sistem hari pasar pun merupakan sistem warisan leluhur masyarakat Toraja sejak ratusan tahun lalu.

Pasar Bolu Toraja

Terletak di pusat wisata Toraja, Kota Rantepao, Pasar Bolu sudah terkenal sebagai obyek wisata yang menarik dan unik untuk dikunjungi. Pasar ternak, demikian pasar ini juga dikenal, merupakan pusat penjualan kerbau dan buka sekali dalam 6 hari (sesuai jadwal hari pasar). Selain kerbau, babi juga dijual di pasar ini, hanya saja jumlahnya lebih sedikit. Sayur, buah-buahan, kopi, dan komoditi hasil bumi lainnya juga dapat ditemukan di pasar ini.

Pada saat hari pasar, jumlah kerbau yang diperjualbelikan dapat mencapai 500 ekor, apalagi saat akan diadakannya upacara-upacara adat. Selain banyaknya kerbau yang diperjualbelikan, pasar ini pun dipenuhi pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan lokal dan mancanegara yang ingin menyaksikan secara dekat kehidupan sebuah pasar ternak besar yang hanya ada di Toraja.

Adapun harga kerbau yang diperjualbelikan mulai dari Rp 5 juta hingga ratusan juta rupiah. Warna dan ukuran tubuh kerbau adalah tolok ukur penentuan harga. Kerbau kecil berwarna hitam akan dihargai sekitar Rp 5 juta, kerbau hitam dengan ukuran agak besar berkisar Rp 10-15 juta.

Sementara itu, kerbau berwarna belang (Tedong Bonga), yang merupakan salah satu komoditas unggul, dapat dihargai puluhan juta rupiah. Sedangkan kerbau albino yang terbilang langka dapat dihargai lebih mahal lagi hingga mencapai ratusan juta rupiah.  (Barry Kusuma)

 
Sumber :Kompas.com
Editor :
S.H